Tradisi Perkawinan Kerubahan Gunung Perspektif Fenomenologi (Studi Kasus Di Desa Candisari Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan)

Published ID 201 views 118 downloads
Abstrak

ABSTRAK SULTON MUZADI, Dosen Pembimbing Dr. Muhammad Solikhudin, M.HI. dan Ach. Khiarul Waro Wardani, M.H. Tradisi Perkawinan Kerubahan Gunung Perspektif Fenomenologi (Studi Kasus Desa Candisari Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan). SYARIAH, IAIN KEDIRI 2022. Kata kunci : Tradisi, Perkawinan, Kerubahan Gunung, Fenomenologi. Pandangan masyarakat mengenai nilai pernikahan sangat dianggap sakral dalam kehidupan, serta Islam menjunjung tinggi sebuah pernikahan. Ketika seorang sudah memenuhi syarat rukun perkawinan maka segera berakad nikah, karena akan berbahaya ketika menunda-nunda perkawinan. Akan tetapi di Desa Candisari Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan terjadi fenomena tradisi larangan perkawinan kerubahan gunung. Dalam hal penundaan perkawinan karena ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Ketika mengikuti tradisi harus ditunda perkawinan di tahun depan, akan tetapi ketika tidak mengikuti tradisi akan menimbulkan musibah. Masyarakat mempercayai musibah tersebut dalam bentuk menimbulkan kematian, kerusakan rumah tanggah, sulitnya ekomoni keluarga, dan banyak masalah dalam keluarga. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui, praktik tradisi perkawinan kerubahan gunung dan penyiasatan tradisi dengan korelasi teori fenomenologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan yang di gunakan adalah pendekatan empiris dan normatif sosiologi. Dalam penelitian tersebut termasuk dalam penelitian lapangan dan kepustakaan. Dengan teknis pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data. Praktik tradisi kerubahan gunung, ketika dalam proses menunggu hari perkawinan. Ada salah satu anggota keluarga khususnya orang tua garis lurus ke atas meninggal dunia sebelum hari akad pernikawinan dilaksanakan. Maka ketika mengikuti tradisi harus ditunda tahun depan perkawinan-nya atau pergantian tahun jawa yaitu bulan suro. Penyiasatan tradisi dengan melakukan dua jalan dengan melakukan perkawinan di samping mayit atau dengan melakukan penundaan perkawinan dengan menunggu tahun depan. Korelasi tinjauan fenomenologi dari Spiegelberg, Pertama, Bracketing, mengumpulkan, menggali informasi, dan melakukan analisis data. Kedua, Menelaah fenomena, Merenungkan, mengganalisis, dan mendeskripsikan fenomena. Ketiga, Menelaah esensi fenomena, menyakini, dan menarasikan makna-makna di balik tradisi perkawinan kerubahan gunung. Adapun makna-makna yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu 1. Bagian dari ekspresi kita berbela sungkawa kepada keluarga atas meninggalnya salah satu anggota keluarga, khususnya orang tua kita. 2. Menunggu masa berkabung/penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan ketiadaan almarhum. 3. Menjaga keharmonisan dalam keluarga. 4. Menghormati keluarga yang habis dilanda duka. 5. Menjaga keluarga dari gunjingan warga setempat. Pada akhirnya muncul harmonisasi hukum adat dan hukum Islam.

Sitasi

Muzadi , Sulton .   (2022). Tradisi Perkawinan Kerubahan Gunung Perspektif Fenomenologi (Studi Kasus Di Desa Candisari Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan). IAIN Kediri

Kata Kunci
Daftar Author
Sulton Muzadi

sultonmuzadi@gmail.com
1
Informasi Jurnal
Author Utama: Sulton Muzadi
Kategori: Journal Sub Category 1
Universitas: UIN Syekh Wasil Kediri
Fakultas:
Departemen/Prodi:
Revisi ke: 24
Tanggal Publikasi: 18 Jul 2022
Dibuat: 18 Jul 2022 02:10
Diupdate: 08 May 2026 23:29