Tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44 setelah salat berjama’ah (studi living Qur’an di Pondok Pesantren Putri Hidayatus Sholihin Turus Gurah Kediri)
Abstrak
Nisa’, Khoirun. Dosen Pembimbing (1) Prof. Dr. Moh. Asror Yusuf, M.Ag dan (2) Kholila Mukaromah, S.Th.I, M.Hum. Tradisi Wirid Surah Ghāfir [40]: 44 Setelah Salat Berjama’ah (Studi Living Qur’an di Pondok Pesantren Putri Hidayatus Sholihin Turus Gurah Kediri). Skripsi, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Kediri. 2023. Kata Kunci: Living Qur’an, Wirid Surah Ghāfir [40]: 44, Konstruksi Sosial Tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44 merupakan salah satu bentuk fenomena Living Qur’an yang dilestarikan di Pondok Pesantren Putri Hidayatus Sholihin. Wirid surah Ghāfir [40]: 44 merupakan sebuah rangkaian amalan zikir dan do’a dari ayat Al-Qur’an dengan sanad dari mashayikh di Lirboyo. Amalan ini digagas oleh muassis (pendiri) pondok sejak beliau masih sugeng. Amalan ini dilakukan setiap hari setelah selesai salat berjama’ah dengan dipimpin oleh imam. Terdapat dua fokus kajian pada riset ini, yakni (1) Bagaimana prosesi wirid surah Ghāfir [40]: 44 setelah salat berjama’ah di Pondok Pesantren Putri Hidayatus Sholihin Turus Gurah Kediri? (2) Bagaimana pemaknaan santri terhadap wirid surah Ghāfir [40]: 44 setelah salat berjama’ah di Pondok Pesantren Putri Hidayatus Sholihin Turus Gurah Kediri perspektif teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann? Riset ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Living Qur’an dengan desain penelitian deskriptif analitis. Adapun cara perolehan data yakni melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Temuan pada riset ini menunjukkan bahwa: (1) Dari segi penerapannya, terdapat beberapa runtutan kegiatan, yakni berwudhu, menata saf salat, melakukan pujian atau nderes, salat berjama’ah, membaca rangkaian wirid dan do’a, serta membaca surah Ghāfir [40]: 44 sebanyak tiga kali sebagai pemungkas. (2) Dari segi pemaknaannya, tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44 ini termanifestasikan ke dalam teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann yang dibentuk melalui tiga momen dialektik, yakni a) eksternalisasi; proses adaptasi atau penyesuaian diri santri terhadap lingkungan pesantren terkait tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44. b) objektivasi; proses terbentuknya kesadaran bahwa tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44 merupakan sebuah realitas sosial yang diterima oleh para santri dan sudah membentuk habitualisasi yang mentradisi dalam kehidupan sehari-hari. c) internalisasi; proses penyerapan makna terhadap tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44 yang tercermin dari keragaman makna subjektif yang berbeda antara santri satu dengan santri lainnya.
Sitasi
Nisa , Khoirun . (2023). Tradisi wirid surah Ghāfir [40]: 44 setelah salat berjama’ah (studi living Qur’an di Pondok Pesantren Putri Hidayatus Sholihin Turus Gurah Kediri). IAIN Kediri
Kata Kunci
Daftar Author
Khoirun Nisa
knisak181@gmail.com
Informasi Jurnal
| Author Utama: | Khoirun Nisa |
| Kategori: | Journal Sub Category 1 |
| Universitas: | UIN Syekh Wasil Kediri |
| Fakultas: | |
| Departemen/Prodi: | |
| Revisi ke: | 16 |
| Tanggal Publikasi: | 10 Oct 2023 |
| Dibuat: | 10 Oct 2023 06:02 |
| Diupdate: | 09 May 2026 00:00 |