Tradisi Pembacaan Shalawat Wahidiyah (Tudi Living Quran di Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh Kediri)

Published ID 141 views 114 downloads
Abstrak

Tradisi pembacaan shalawat Wahidiyah merupakan tradisi di Ponpes Kedunglo al-Munadhdhoroh. Tradisi tersebut dilaksanakan oleh seluruh santri dan masyarakat yang berada di Ponpes Kedunglo. Dalam tradisi tersebut, terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang termasuk dalam rangkain shalawat Wahidiyah, diantaranya QS. Al-Fatihah;1-7, QS. aż-Żariyat; 50 dan QS. al-Isra’; 81. Keberadaan shalawat Wahidiyah sampai saat ini telah banyak diamalkan oleh masyarakat. Selain itu, pengamalan shalawat Wahidiyah ini tidak dibatasi usia, jenis kelamin, agama, ataupun yang lainnya. Shalawat Wahidiyah ini dapat diamalkan oleh siapapun tanpa pandang bulu. Dalam pengamalan shalawat Wahidiyah, tentu setiap orang memiliki penerimaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tradisi pembacaan shalawat Wahidiyah ini peneliti kaitkan dengan teori resepsi. Teori resepsi merupakan penerimaan pembaca terhadap karya sastra, dalam hal ini karya tersebut adalah al-Qur’an, termasuk rangkaian shalawat Wahidiyah. Teori ini dibagi menjadi tiga, yaitu resepsi eksegesis (penerimaan berdasarkan penafsiran), resepsi estetis (berdasarkan keindahan), resepsi fungsional (berdasarkan tujuan). Sehingga penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui praktik dan pemaknaan terhadap tradisi pembacaan shalawat Wahidiyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu dengan memperoleh data yang bersumber dari pengasuh, guru, dan santri Ponpes Kedunglo al-Munahdhoroh, kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa praktik tradisi pembacaan shalawat Wahidiyah dibagi menjadi tiga, yakni persiapan (dengan membaca tasyafu’ dan istighosah), pelaksanaan (dengan membaca rangkaian shalawat Wahidiyah), pasca pelaksanaan (dengan membaca tasyafu’ dan istighosah atau melakukan nida’ yaitu berdiri menghadap empat arah mata angin dan membaca fafirrū ilallah dan waqulja’a al- haqqu wazahaqa al-batil inna al-batila kana zahuqa). Selanjutnya, terkait penerimaan antara lain: 1) resepsi eksegesis: peneliti tidak menemukan adanya penerimaan dalam bentuk penafsiran terhadap ketiga surah yang termasuk dalam rangkaian shalawat Wahidiyah melalui kegiatan pendukung seperti kajian khusus yang membahas tafsir ayat- ayat al-Qur’an. Akan tetapi, terdapat beberapa pengamal yang merespon secara individu dalam bentuk penafsiran melalui referensi kitab Tafsir Jalalain. 2) resepsi estetis: penggunaan potongan ayat QS. aż-Żariyat; 50 fafirrū iallah yang dijadikan kaligrafi berbentuk lingkaran dengan tujuan sebagai logo atau simbol dari perjuangan Wahidiyah. 3) resepsi fungsional: para pengamal membaca surah al-Fatihah sebagai bentuk tawassul kepada Nabi Muhammad Saw. dan kepada Sulthonul Auliya. Membaca surah aż-Żariyat; 50 sebagai doa agar diri sendiri, keluarga, dan masyarakat jami’al ‘alamin agar sadar kembali kepada Allah. Sedangkan membaca surah al-Isra’; 81 sebagai doa agar Allah mengganti segala sesuatu yang buruk menjadi yang baik.

Sitasi

Zulaihah , Evy .   (2023). Tradisi Pembacaan Shalawat Wahidiyah (Tudi Living Quran di Ponpes Kedunglo Al-Munadhdhoroh Kediri). IAIN Kediri

Kata Kunci
Daftar Author
Evy Zulaihah

evyzulaihah@gmail.com
1
Informasi Jurnal
Author Utama: Evy Zulaihah
Kategori: Journal Sub Category 1
Universitas: UIN Syekh Wasil Kediri
Fakultas:
Departemen/Prodi:
Revisi ke: 16
Tanggal Publikasi: 24 Oct 2023
Dibuat: 24 Oct 2023 06:53
Diupdate: 08 May 2026 23:55